Pernahkan anda berpikir bahwa hidup anda begitu sial dan tidak beruntung? Penuh lika-liku mengerikan dan menyebalkan? Sebagian besar hidup anda atau lebih dari 50% hidup anda diisi dengan hal mengerikan yang berujung kesialan. Apakah hidup anda seperti itu?
Gara-gara si ini gue jadi kayak gini……….
Gara-gara kemaren gue ngelakuin itu jadinya kayak gini………..
Coba gue ngelakuin itu tadi, pasti gak kayak gini
hasilnya…………
Sial banget gue hari ini!
Mungkin dari
kalimat diatas anda pernah mengucapkannya. Itu adalah sebuah keluhan, sebuah
gertakan untuk diri sendiri. Setiap manusia pasti pernah mengeluh, pasti anda
pernah mengeluh. Mengeluh adalah hal yang wajar, itu adalah proses belajar dari
tiap manusia. Dari keluhan, kita sebagai manusia bisa mengerti bahwa mengeluh
tidak akan menyelesaikan masalah. Hanya saja, sedikit dari kita yang sadar dan
berhenti dari mengeluh. Ada juga yang sadar bahwa mengeluh tidak menyembuhkan
masalah tapi tetap saja mengeluh.
Kalo hidup
kita sial dan menyebalkan, kita mengeluh. Kalau kita dimarahi dan disalahkan,
kita mengeluh. Kalo kita menerima banyak hal negatif dari luar, lalu ada
kejadian buruk menimpa, kita mengeluh. Sepertinya tiap detik hidup ini kita
habiskan dengan mengeluh. Terkadang anda men-judge diri anda sebagai orang yang sial dan gak ada beruntungnya.
Padahal,
Anda adalah
orang paling beruntung di dunia ini. Anda adalah orang paling bahagia dan
menyenangkan di dunia ini. Hanya saja, sedikit yang menyadari bahwa anda semua
adalah orang paling beruntung di dunia ini, kebanyakan dari kita justru mengira
bahwa kita adalah orang yang sial. Kenapa?
Banyak Ngeluh dibanding Besyukur
Salah satu
hal yang membuat kita menjadi orang yang sial adalah karena mengeluh. Mengeluh
itu penyakit, penyakit buat hati dan pikiran. Mengeluh tidak menyelesaikan
masalah, mengeluh hanya menambah beban hati dan pikiran. Apalagi, kalau keluhan
kita justru mengkambing hitamkan orang lain, wah itu lebih parah. Mengeluh
itu menghalangi rasa syukur.
Keberuntungan
itu datang dari rasa syukur kita. Musibah yang kita alami bukan untuk
dikeluhkan, melainkan untuk disyukuri. Lho, kok disyukuri? Ya, karena dari
musibah itu kita bisa belajar banyak, itu adalah pelajaran. Cuman, sering dari
kita menganggap musibah sebagai kesialan dan keluhan sebagai solusi. Alhasil,
hanya kesialan yang berkelanjutan yang ada. Padahal, alangkah baiknya sebuah
musibah disyukuri, karena rasa syukur akan menghasilkan ketenangan hati dan
pikiran. Inilah yang membuat hidup kita berasa lebih enteng dan beruntung.
Banyak Ngedumel dibanding Bersabar
Habis dapet
musibah sering kita ngedumel dalam hati. Ngomongin ini itu, dan kebanyakan
omongan yang negatif dan tak bermanfaat. Alhasil, hati bukan semakin enteng
justru semakin terbebani. Rasa kesal semakin menumpuk dan pikiran menjadi
kotor. Kebanyakan kita, kalau mendapat musibah bukan sabar solusinya, tapi
ngedumel dulu. Kalau ada janji sama temen, eh tiba-tiba temen batalin janjinya
kita kesel dan ngedumel dalem hati. Kalau kita dimarahi sama orang yang lebih
tua, kita ngedumel dalem hati sambil mikir yang aneh-aneh.
Lalu
bagaimana solusinya? Sabar adalah solusinya. Kejadian buruk itu bukan untuk
disesali dalam-dalam, tapi cukup disesali di permukaan. Bersabar adalah kunci
hidup yang jauh lebih baik, kalau ada musibah ya bersabar aja. Bersabar bukan
berarti kalah, bukan berarti menyerah. Bersabar tanda bahwa kita adalah orang
kuat. Bersabar itu meringankan beban pikiran dan menjernihkan hati. Bersabar
merupakan jalan menuju hidup lebih beruntung.
Banyak Mikir Negatif dibanding
Positif.
”eh si itu masa kayak gini……”
“dia kan orangnya kayak gitu……”
Berapa banyak waktu kita untuk membicarakan orang lain? Kalau bicarain
sisi positif gak masalah, tapi kalau negatif? Berapa banyak kita mengkambing
hitamkan orang lain? Kalau ada apa-apa kita menyalahkan orang lain. Lempar batu
sembunyi tangan. Hidup kita penuh dengan pikiran negatif dan buruk. Kalau ada
musibah kita mikirnya ini gara-gara si itu, gara-gara si ini, jarang kita
berasumsi bahwa musibah itu adalah karena kesalahan kita. Dan itu adalah
balasannya.
Berpikir negatif
dapat mengkerdilkan otak, merusak tatanan pemikiran kita dan sistem saraf.
Berpikir negatif mempercepat penuaan dan menambah beban pikiran. Negatif harus
dilawan dengan berpikir positif, kenapa? Karena berpikir positif membuat
pikiran kita lebih bahagia dan terbuka. Positif memberikan dampak segar,
sedangkan negatif memberikan dampak mengerikan. Orang yang sering berpikiran
negatif cenderung lebih rusak dibanding yang berpikiran positif.
Simpulan
Setiap
manusia adalah makhluk beruntung. Tidak ada satupun yang sial. Hanya saja
penyakit hati seperti mengeluh, ngedumel, dan negative thinking membuat
keberuntungan itu tertutup dan tergantikan oleh kesialan. Pastikan anda bebas
dari tiga penyakit itu.
Ganti
mengeluh dengan bersyukur.
Ganti
ngedumel dengan bersabar.
Ganti
pikiran negatif dengan positif.
Satu hal
yang pasti, ketika anda bangun di pagi hari, anda adalah orang paling beruntung
di dunia ini. Jangan rusak keberuntungan anda dengan hal-hal buruk dan penyakit
hati. Pastikan diri anda bersih dari itu.

numpang mampir
BalasHapus