Patung emas
itu tegak, berdiri dengan gagah di sebuah jalan. Seorang lelaki dengan pakaian
begitu rapi, sedang memegang tongkat kayu dengan kedua tangannya, mengenakan
topi kebanggaan militer, dia tegak berdiri setinggi 4 meter kurang lebih. Aku
menatap patung itu, duduk di sebuah kursi kayu yang disediakan di pinggir
jalan. Aku memandangi patung itu berjam-jam, entah mengapa. Di belakang patung
itu ada sebuah bangunan putih bersih, ada 3 lantai, memiliki halaman yang luas
dengan padang rumput hijau mekar disana. Ada puluhan manusia bersenjata di
sekitar tempat itu, ada anjing yang terlihat mengerikan dengan taring mereka
yang siap menyikat para penjahat.
“Sector”
seorang lelaki berkacamata mengucapkan hal itu. Ryan namanya, dia adalah temanku. Seorang kutu buku.
“Ada apa
dengan Sector?” tanyaku.
“Mereka
adalah lembaga hebat, penjaga kedamaian di seluruh penjuru dunia” kata Ryan
sambil mengetik sesuatu di notebook
yang ia pangku di pahanya.
Aku
memandangi gedung itu, sebuah tiang menancap di halaman gedung itu. Tiang
dengan bendera bewarna biru dan di tengahnya ada peta dunia bewarna putih.
Bendera itu berkibar, mengepakkan untaian benang yang telah bersatu.
“Aku gak
peduli sebenarnya” ucapku cuek.
“Susah lho
masuk Sector. Kabarnya seleksi mereka hanyalah kamuflase, sebenarnya mereka
merekrut orang-orang spesial” jarinya tak berhenti dari keyboard.
“Aku juga tak ingin masuk Sector” kataku.
“Lalu kenapa
kau memilih tempat ini?” tanya Ryan, dia tak menoleh sedikitpun ketika
berbicara.
Aku terdiam.
Aku hanya teringat akan perkataan Lisa, tentang tujuan. “ini tempat yang bagus untuk
menentukan tujuan hidup” kataku.
“Mengejutkan”
katanya sambil terus mengetuk keyboard. “Sejak kapan kau mulai memikirkan
tujuan hidup?”
“Aku juga
tak tau. Ini muncul dengan alami” kataku. Ini karena Lisa yang berbicara
tentang tujuan hidup. “Menurutku gak terlalu penting, tapi……”
“Tapi kau
terus kepikiran. Hanya masalah waktu sampai kau melupakannya” katanya dengan
santai. Dia menutup notebooknya dan
memasukkannya ke dalam tas cokelat yang ia bawa. “De Latte Morgan” katanya
sambil melihatku melalui kacamata hitam besarnya.
“Siapa itu?”
tanyaku.
“Patung yang
kau lihat, itu namanya. Seorang penyelesai perang dan pertumpahan darah.
Pencetus Sector, dia sudah meninggal”
Patung itu
tampak gagah. Tapi aku lebih memilih untuk meninggalkannya sejenak, berhenti
menatap patung itu, berdiri dari bangku kayu. Berjalan menuju rumah untuk
istirahat sebelum memulai kelas besok. Hari yang melelahkan. Ryan menggendong
tasnya, dia tampak keberatan dengan beban yang ia bawa, hamper terjatuh. Aku
hanya tertawa melihat bebannya yang begitu berat, tidak seimbang dengan
badannya yang kurus.
De Latte
Morgan. Pencetus Sector. Nama itu menggaung di telingaku. Beberapa menit lalu,
tujuan yang menggaung di pikiran, kini ada De Latte Morgan.
***
Aku mengaduk
sup ayam itu dengan sendok alumunium yang kupegang. Duduk di kursi kayu sambil
menonton berita di TV. Sebuah talkshow, kabarnya akan menghadirkan seseorang
yang sangat berpengaruh dalam kedamaian dunia. Baru-baru ini, dunia baru
tersentak ketika tingkat kejahatan terus meningkat tiap harinya. Badan perlindungan
dunia alias SECTOR terus berbenah dan menumpas kejahatan itu.
Si presenter
di TV itu membuka acara dengan ramah, tak berapa lama kemudian tepuk tangan
terdengar dari TV. Lampu sorot menyinari satu sosok pria tua, badannya besar,
kepalanya memakai slayer bermotif gelombang. Kumis dan jenggotnya meranggas
putih. Jas hitam dengan dasi merah serta celana hitam membuatnya tampak begitu
gagah dan pemberani sekaligus mengerikan.
“Selamat
datang Pak Henry Harogan” begitu kata si presenter sambil menyalami tangan pria
tua itu. Pria tua itu membalas salamnya, menggenggam tangan si presenter dengan
keras sehingga si presenter sempat bermimik kesakitan.
Henry
Harogan, salah satu petinggi Sector. Komandan dari Sector 1, Sector yang
dianggap paling vital, paling dikagumi. Setiap orang yang mendaftar Sector
selalu berusaha untuk meraih posisi di Sector 1. Seketika TV dimatikan.
Bibi
melihatku bengong, tampangnya keheranan. Dia memegang remote TV itu. “habiskan
makananmu, sepertinya kau tidak fokus dengan makanan itu” ucapnya. “Apa yang
kau pikirkan?” tanyanya.
“Tidak ada”
ucapku sambil melanjutkan mengaduk sup itu. “Ini sedikit panas, aku ingin
menunggunya dingin”
“Bukankah
sup enak jika dimakan ketika hangat” katanya sambil melap kedua tangannya
dengan sebuah kain tebal. Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Tak
menjawab, menyendok sedikit demi sedikit sup ayam itu.
“Bagimana
kuliahmu?” tanyanya.
“Baik”
kataku. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan”
“Kau yakin?”
tanyanya. Aku hanya mengangguk karena sedang menelan sup ayam itu. Dia hanya
tersenyum, sepertinya tidak ada masalah. Mungkin raut wajahku yang membuat dia
ragu dengan semua jawabanku.
Aku kembali
ke kamar setelah menghabiskan sup itu. Duduk di meja belajar dengan lampu neon
putih yang menyala terang. Notebook masih menyala terang, menunjukkan
berita-berita terkini. Kebanyakan beritanya tentang tingkat kejahatan dan
keadaan dunia. Sector ada di trending
topic. Aku hanya mengusap wajahku, ngantuk terus berderu di wajah dan tubuh
ini. Masih ada tumpukan tugas yang harus aku kerjakan.
Sebelum aku
mengerjakan tugas, sebuah e-mail baru
masuk. Tak tau dari siapa, unknown,
begitulah tulisannya.
“aku tidak tau siapa kau, tidak tau dimana
kau, tapi kami ada di saat kau membutuhkan. Di saat kau kebingungan, dan pusing
untuk mencari tujuan hidup. Kami memiliki penyelesaian dari permasalahan itu.
Permasalahan yang kau miliki, tujuan hidup”
Kami?
Penyelesaian? Masalah yang aku miliki? Lebih baik aku tutup email itu, kuhapus
dan kulupakan selamanya. Tapi, itu terbawa hingga tidur, atau bahkan besok
paginya ketika aku bangun. Siapapun dia, siapapun yang mengirim pesan itu, dia
seolah dekat denganku. Tau permasalahanku. Sayangnya, aku lebih memilih untuk
melupakan.
Walapun, aku
belum tau tujuan hidupku. Itu permasalahan pribadi. Tapi sudah diketahui oleh
seseorang bernama unknown.
Keesokan
harinya, ketika jam kuliah datang. Ada sebuah e-mail baru masuk. Dari orang yang sama, unknown.
“Apakah kau ingin menjadi patung emas
kebanggaan? De Latte Morgan?”

0 komentar:
Posting Komentar