Jumat, 20 Mei 2016

2 : Patung Emas Kebanggaan


Patung emas itu tegak, berdiri dengan gagah di sebuah jalan. Seorang lelaki dengan pakaian begitu rapi, sedang memegang tongkat kayu dengan kedua tangannya, mengenakan topi kebanggaan militer, dia tegak berdiri setinggi 4 meter kurang lebih. Aku menatap patung itu, duduk di sebuah kursi kayu yang disediakan di pinggir jalan. Aku memandangi patung itu berjam-jam, entah mengapa. Di belakang patung itu ada sebuah bangunan putih bersih, ada 3 lantai, memiliki halaman yang luas dengan padang rumput hijau mekar disana. Ada puluhan manusia bersenjata di sekitar tempat itu, ada anjing yang terlihat mengerikan dengan taring mereka yang siap menyikat para penjahat.

“Sector” seorang lelaki berkacamata mengucapkan hal itu. Ryan namanya, dia  adalah temanku. Seorang kutu buku.

“Ada apa dengan Sector?” tanyaku.

“Mereka adalah lembaga hebat, penjaga kedamaian di seluruh penjuru dunia” kata Ryan sambil mengetik sesuatu di notebook yang ia pangku di pahanya.

Aku memandangi gedung itu, sebuah tiang menancap di halaman gedung itu. Tiang dengan bendera bewarna biru dan di tengahnya ada peta dunia bewarna putih. Bendera itu berkibar, mengepakkan untaian benang yang telah bersatu.

“Aku gak peduli sebenarnya” ucapku cuek.

“Susah lho masuk Sector. Kabarnya seleksi mereka hanyalah kamuflase, sebenarnya mereka merekrut orang-orang spesial” jarinya tak berhenti dari keyboard.

“Aku juga tak ingin masuk Sector” kataku.

“Lalu kenapa kau memilih tempat ini?” tanya Ryan, dia tak menoleh sedikitpun ketika berbicara.

Aku terdiam. Aku hanya teringat akan perkataan Lisa, tentang tujuan. “ini tempat yang bagus untuk menentukan tujuan hidup” kataku.

“Mengejutkan” katanya sambil terus mengetuk keyboard. “Sejak kapan kau mulai memikirkan tujuan hidup?”

“Aku juga tak tau. Ini muncul dengan alami” kataku. Ini karena Lisa yang berbicara tentang tujuan hidup. “Menurutku gak terlalu penting, tapi……”

“Tapi kau terus kepikiran. Hanya masalah waktu sampai kau melupakannya” katanya dengan santai. Dia menutup notebooknya dan memasukkannya ke dalam tas cokelat yang ia bawa. “De Latte Morgan” katanya sambil melihatku melalui kacamata hitam besarnya.

“Siapa itu?” tanyaku.

“Patung yang kau lihat, itu namanya. Seorang penyelesai perang dan pertumpahan darah. Pencetus Sector, dia sudah meninggal”

Patung itu tampak gagah. Tapi aku lebih memilih untuk meninggalkannya sejenak, berhenti menatap patung itu, berdiri dari bangku kayu. Berjalan menuju rumah untuk istirahat sebelum memulai kelas besok. Hari yang melelahkan. Ryan menggendong tasnya, dia tampak keberatan dengan beban yang ia bawa, hamper terjatuh. Aku hanya tertawa melihat bebannya yang begitu berat, tidak seimbang dengan badannya yang kurus.

De Latte Morgan. Pencetus Sector. Nama itu menggaung di telingaku. Beberapa menit lalu, tujuan yang menggaung di pikiran, kini ada De Latte Morgan.

***

Aku mengaduk sup ayam itu dengan sendok alumunium yang kupegang. Duduk di kursi kayu sambil menonton berita di TV. Sebuah talkshow, kabarnya akan menghadirkan seseorang yang sangat berpengaruh dalam kedamaian dunia. Baru-baru ini, dunia baru tersentak ketika tingkat kejahatan terus meningkat tiap harinya. Badan perlindungan dunia alias SECTOR terus berbenah dan menumpas kejahatan itu.

Si presenter di TV itu membuka acara dengan ramah, tak berapa lama kemudian tepuk tangan terdengar dari TV. Lampu sorot menyinari satu sosok pria tua, badannya besar, kepalanya memakai slayer bermotif gelombang. Kumis dan jenggotnya meranggas putih. Jas hitam dengan dasi merah serta celana hitam membuatnya tampak begitu gagah dan pemberani sekaligus mengerikan.

“Selamat datang Pak Henry Harogan” begitu kata si presenter sambil menyalami tangan pria tua itu. Pria tua itu membalas salamnya, menggenggam tangan si presenter dengan keras sehingga si presenter sempat bermimik kesakitan.

Henry Harogan, salah satu petinggi Sector. Komandan dari Sector 1, Sector yang dianggap paling vital, paling dikagumi. Setiap orang yang mendaftar Sector selalu berusaha untuk meraih posisi di Sector 1. Seketika TV dimatikan.

Bibi melihatku bengong, tampangnya keheranan. Dia memegang remote TV itu. “habiskan makananmu, sepertinya kau tidak fokus dengan makanan itu” ucapnya. “Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.

“Tidak ada” ucapku sambil melanjutkan mengaduk sup itu. “Ini sedikit panas, aku ingin menunggunya dingin”

“Bukankah sup enak jika dimakan ketika hangat” katanya sambil melap kedua tangannya dengan sebuah kain tebal. Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Tak menjawab, menyendok sedikit demi sedikit sup ayam itu.

“Bagimana kuliahmu?” tanyanya.

“Baik” kataku. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan”

“Kau yakin?” tanyanya. Aku hanya mengangguk karena sedang menelan sup ayam itu. Dia hanya tersenyum, sepertinya tidak ada masalah. Mungkin raut wajahku yang membuat dia ragu dengan semua jawabanku.

Aku kembali ke kamar setelah menghabiskan sup itu. Duduk di meja belajar dengan lampu neon putih yang menyala terang. Notebook masih menyala terang, menunjukkan berita-berita terkini. Kebanyakan beritanya tentang tingkat kejahatan dan keadaan dunia. Sector ada di trending topic. Aku hanya mengusap wajahku, ngantuk terus berderu di wajah dan tubuh ini. Masih ada tumpukan tugas yang harus aku kerjakan.

Sebelum aku mengerjakan tugas, sebuah e-mail baru masuk. Tak tau dari siapa, unknown, begitulah tulisannya.

aku tidak tau siapa kau, tidak tau dimana kau, tapi kami ada di saat kau membutuhkan. Di saat kau kebingungan, dan pusing untuk mencari tujuan hidup. Kami memiliki penyelesaian dari permasalahan itu. Permasalahan yang kau miliki, tujuan hidup”

Kami? Penyelesaian? Masalah yang aku miliki? Lebih baik aku tutup email itu, kuhapus dan kulupakan selamanya. Tapi, itu terbawa hingga tidur, atau bahkan besok paginya ketika aku bangun. Siapapun dia, siapapun yang mengirim pesan itu, dia seolah dekat denganku. Tau permasalahanku. Sayangnya, aku lebih memilih untuk melupakan.

Walapun, aku belum tau tujuan hidupku. Itu permasalahan pribadi. Tapi sudah diketahui oleh seseorang bernama unknown.

Keesokan harinya, ketika jam kuliah datang. Ada sebuah e-mail baru masuk. Dari orang yang sama, unknown.


“Apakah kau ingin menjadi patung emas kebanggaan? De Latte Morgan?”

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Pradhipta8 | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑