Rabu, 11 Mei 2016

1 : Era Kebimbangan



            100 tahun lalu, sebuah perang besar terjadi di semua penjuru dunia. Menyebabkan jutaan nyawa melayang, jutaan orang kehilangan orang yang mereka sayangi. Tempat tinggal, gedung-gedung bertingkat yang dulu berdiri kokoh dan tegap tersapu bersih oleh lemparan-lemparan kerucut besi dari langit. Kerucut besi itu menghancurkan semuanya, menyebabkan permukaan tanah bewarna kecokelatan menjadi kemerahan. Puluhan mesin terbang bersenjata selalu lalu lalang tiap harinya, tak mengenal waktu dan tak pandang bulu dalam mengeluarkan muatan perkasanya. Puluhan kendaraan berantai besi datang, sebuah tiang horizontal melekat di kendaraan itu. Seringkali tongkat itu mengeluarkan sesuatu, disertai dentuman keras yang membengkakkan telinga.

            Itu dulu, 100 tahun lalu. Sejarah itu dikenal dengan nama REVOLUSI DUNIA. Setelah kejadian itu, populasi manusia menurun drastic, dari 4 milyar orang menjadi 100 juta orang. Sebuah penurunan yang drastis. Setelah pertumpahan darah yang berlangsung cukup lama, para manusia tersisa sepakat untuk menghentikan perperangan, gencatan senjata dilemparkan oleh semua pihak yang berperang. Sudah banyak kehilangan yang umat manusia alami, sebuah kertas perjanjian digelar didepan jutaan orang. Sebuah tinta hitam dicoretkan di selembar kertas itu, sebuah pakta perjanjian bahwa perperangan akan dihentikan untuk selamanya.

            Saat itu, dunia dalam kedamaian, kami para manusia memulai kehidupan baru yang lebih tenang dan damai. Tidak ada rudal, tidak ada kendaraan besi berantai, tidak ada mesin terbang bersenjata lagi. Kami bisa tidur dengan tenang tanpa peduli sebuah serangan yang menyerang, kami bisa berjalan-jalan dengan tenang tanpa peduli apakah akan ada peluru besi menyayat kami. Saat itu, kami berada dalam harmoni dan keindahan. Sebuah era baru.

            Tapi, itu tidak berlangsung lama. Ternyata pakta perjanjian itu tidak ditandatangani oleh semua pihak, masih ada pihak yang berselisih dengan kedamaian, mereka yang gila kekuasaan dan menginginkan tahta dan harta dunia. Pemberontakanpun terjadi dimana-mana, Pemerintah Dunia sebagai penjaga kedamaian tidak punya pilihan selain berperang. Untuk alasan tertentu, akhirnya Pemerintah mendirikan sebuah organisasi yang berfungsi meratakan pemberontakan dan menghapuskannya dari dunia ini.

            Nama organisasi itu adalah “SEKTOR”. Sebuah organisasi penjaga kedamaian. Sejak berdirinya organisasi tersebut, angka pemberontakan bisa dikatakan menurun, namun tidak menghentikan pemberontakan secara sempurna. Secara tak langsung, masyrakat bisa hidup damai, tapi tak sepenuhnya damai. Masyarakat bisa hidup tenang, tapi tak sepenuhnya tenang. Kini dimulai era baru, mereka menamainya “ERA KEBIMBANGAN”.

-----------------------------------------------

            “Zaki! Zaki! Zaki!” kali ini aku mendengar ketukan keras di pintu kamarku. Ada sekitar 4 kali ketukan keras di pintu kayu itu, dan juga panggilan-panggilan keras. Aku tau bahwa itu adalah bibi-ku, Bibi Helena namanya. Aku sedang mengerjakan tugas kuliah saat itu, tapi akibat panggilan itu, aku berdiri dari kursi dan membukakan pintu, sesosok wanita berumur 46 tahun muncul dari balik pintu itu, dia mengenakan kerudung putih dan juga sebuah seragam bermotif batik awan.

            “Ada apa bi?” tanyaku.

            “Bibi mau berangkat kerja, sarapan ada di bawah tudung saji, jangan lupa kunci pintu ya pas kamu mau berangkat” ucapnya dengan ramah dan terburu-buru.

            “Oke bi” kataku singkat. Dia langsung berpaling, pergi membawa tas jinjingnya yang bewarna hitam dan segera keluar dari pintu depan. Ini ceritaku, Zaki Ramadhan, itulah namaku, seorang lelaki berumur 19 tahun. Setelah kedua orang tuaku tiada 10 tahun lalu, aku dirawat oleh bibi dan pamanku. Hanya saja, pamanku adalah orang penting yang selalu berpergian keluar kota dan lintas negara sehingga dia sangat jarang dirumah, alhasil aku hanya tinggal dengan bibiku secara tak langsung. Bibiku adalah seorang pegawai negeri, dia bekerja di bagian administrasi, ketika pulang dia selalu membawa makanan dan juga selalu mengerjakan pekerjaan kantornya yang belum selesai, memang sibuk.

            Aku sendiri adalah seorang mahasiswa, semester 4 di jurusan komunikasi. Tidak ada kolerasi sebenarnya antara aku dengan jurusan itu, tapi itu bukan hal yang kupedulikan. Jam sudah menunjuk di angka tujuh, dengan matahari bersinar terang aku segera menyelesaikan tugas kuliah yang akan dikumpulkan nanti. Setelah berkutat dengan tugas, aku segera mandi, lalu makan dan segera berangkat kuliah dengan motor matic bewarna merah.

            Sebuah gedung tinggi dengan pohon rindang disekeliling gedung itu, itu adalah gedung kuliahku, tempat tersejuk sekaligus paling menakutkan yang pernah aku kunjungi. Aku masuk ke dalam gedung itu, sebuah lobby dengan keramik putih menyambutku, puluhan mahasiswa sudah duduk di sudut-sudut lobby ini dengan laptop dan juga buku di sekitar mereka. Suasana yang memuakkan, melihat ini setiap hari membuatku merasa rishi apakah aku benar anak kuliah atau bukan.

            “Zaki………” suara lembut memanggilku, kurasa itu perempuan. Aku melihat dikejauhan ada yang datang menghampiri sambil melambaikan tangan, seolah aku baru turun dari pesawat da nada keluarga yang datang menyambutku. Seorang perempuan berkerudung biru dengan jaket tipis bewarna krem serta rok hitam datang menghampiriku.

            “Lisa ternyata” kataku ketika ia mendekat. Itulah namanya, temanku sejak SMP, dan kebetulan kami berada di jurusan yang sama. Dia datang menghampiriku dengan senyuman yang khas, dia memang selalu tersenyum dan aku sangat jarang melihatnya menangis.

            “tumben datang pagi” katanya sambil menunjukkan jam yang jarumnya mengarah ke angka 7 dan 6, atau itu berarti 07.30. “Apakah ada sesuatu yang membuatmu datang cepat?” tanyanya. Itu pertanyaan menyinggung sebenarnya.

        “Bukan karena itu” ucapku dengan nada datar. Aku mendapat gelar buruk disini, melihat perilaku-ku yang sering telat menjadikan orang-orang memberiku gelar ‘tukang telat’. Tapi, itu tak terlalu menggangguku sebenarnya. “Apakah kamu lagi gak ada kerjaan, Lisa?” tanyaku. “Kau-kan orang yang sibuk, bukankah begitu anak BEM?” lanjutku.

            “Sedang tidak ada kerjaan” dia menjawab dengan tersenyum, padahal itu pertanyaan untuk menyinggung aktivitasnya yang begitu padat. “Lebih baik kita masuk kelas, supaya tidak kehabisan bangku di bagian depan” katanya dengan tenang dan berjalan menuju tangga naik.

          “Kursi depan? Siapa yang mau duduk depan?” kataku, tapi aku mengikuti langkahnya.

        Kami masuk kedalam sebuah ruangan berukuran 6x7 meter, begitu kami masuk, kami disambut oleh sebuah meja kayu besar bewarna cokelat muda dengan serat-serat kayu yang begitu tampak jelas. Di dekat meja ada sebuah papan tulis putih menempel di dinding. Sementara di depan meja besar itu ada sebuah meja-meja kecil yang menyatu dengan kursi hitam. Lisa langsung meletakkan tasnya di meja paling depan, tepat di depan meja besar dan dengan tenang ia duduk disitu. Sementara aku, sudah pasti, meja paling belakang dan paling jauh dari meja besar itu adalah pilihanku.

            Aku berjalan ke meja paling belakang, meletakkan tas yang sangat ringan ini disana dan duduk lalu meletakkan kepalaku di atas tas itu, seperti bantal. Aku sadar bahwa Lisa sedang melirikku, bukan karena rasa cinta atau suka, melainkan karena kelakuanku yang dia anggap sangat aneh dan tidak wajar di dunianya.

            “buat apa kamu kuliah?” tanyanya dari jauh.

            Aku mengangkat kepalaku, kulihat dia membuka sebuah buku dan membolak-balikkan beberapa lembar berkali-kali. “buat absen” kataku polos, aku meletakkan kepalaku lagi di atas tas tipis itu.

            “apakah gak ada tujuan lain?” tanyanya sebelum aku meletakkan kepalaku kembali ke sebuah bantal tipis bernama tas.

            Aku terdiam, dia terus menatapku dengan pandangan menunggu sebuah jawaban. Aku memandangnya juga, tapi bukan wajahnya, melainkan aku memandang sebuah papan tulis putih di belakangnya. Suasana menjadi sunyi, sangat sunyi. Suara ribut diluar ruangan, suara langkah kaki yang daritadi melangkah mondar-mandir, kini hilang ditelan pertanyaan itu.

            “apa kamu punya tujuan lain selain absen?” dia mengulangi pertanyaan lagi.

            Aku hanya menggeleng kecil. “entahlah” jawabku singkat. Ini sebuah pertanyaan sulit untukku, entah mengapa, aku jadi memikirkan hal ini berulang dan  berkali-kali. Sebuah tujuan? Belum terpikir di benakku, biasanya aku tak memikirkannya karena kurasa tak begitu penting. Tapi, lontaran dari Lisa membuatku berpikir tentang tujuan.

            “lalu, bagaimana kau bisa tahan kuliah hanya karena ingin absen?” tanyanya.
            “karena ini perintah orang tua” jawabku pelan. “jika orang tuaku tak menyuruh aku lebih memilih untuk tak kuliah dan bekerja” ucapku enteng.

            “tapi kau sekarang kuliah” katanya.

            “iya” balasku singkat.

            “harusnya kau memiliki tujuan lain yang lebih kuat selain orang tua dan …………”

            “sudah!” ucapku dengan nada keras. “aku mengerti, aku mau tidur” ucapku sambil meletakkan kepalaku di atas tasku. Renteran ucapannya berhenti, kini hanya ada suara angin yang mengetuk jendela dan lembaran buku yang dibolak-balik. Detik ini, aku mulai memikirkan tujuan hidupku, untuk apa? Rasanya aku tak punya alasan yang begitu kuat untuk kuliah. Aku jadi teringat ketika teman-temanku berkata ingin jadi ini dan itu, sedangkan aku tak mengucapkan apapun.

            Saat itu, aku mulai memikirkan tujuanku. Tapi, di satu sisi, aku berusaha melupakan apa yang telah diucapkan oleh Lisa. Aku tak ingin terbawa oleh suasana mengesalkan, sebuah pertanyaan konyol yang tak perlu kupikirkan.

            Tapi……

            Aku terus memikirkannya…..


            Suatu hal pemberat yang bernama tujuan.

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com

Copyright © Pradhipta8 | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑