100 tahun lalu, sebuah perang besar terjadi di semua
penjuru dunia. Menyebabkan jutaan nyawa melayang, jutaan orang kehilangan orang
yang mereka sayangi. Tempat tinggal, gedung-gedung bertingkat yang dulu berdiri
kokoh dan tegap tersapu bersih oleh lemparan-lemparan kerucut besi dari langit.
Kerucut besi itu menghancurkan semuanya, menyebabkan permukaan tanah bewarna
kecokelatan menjadi kemerahan. Puluhan mesin terbang bersenjata selalu lalu
lalang tiap harinya, tak mengenal waktu dan tak pandang bulu dalam mengeluarkan
muatan perkasanya. Puluhan kendaraan berantai besi datang, sebuah tiang
horizontal melekat di kendaraan itu. Seringkali tongkat itu mengeluarkan
sesuatu, disertai dentuman keras yang membengkakkan telinga.
Itu dulu, 100 tahun lalu. Sejarah itu dikenal dengan nama
REVOLUSI DUNIA. Setelah kejadian itu, populasi manusia menurun drastic, dari 4
milyar orang menjadi 100 juta orang. Sebuah penurunan yang drastis. Setelah
pertumpahan darah yang berlangsung cukup lama, para manusia tersisa sepakat
untuk menghentikan perperangan, gencatan senjata dilemparkan oleh semua pihak
yang berperang. Sudah banyak kehilangan yang umat manusia alami, sebuah kertas
perjanjian digelar didepan jutaan orang. Sebuah tinta hitam dicoretkan di
selembar kertas itu, sebuah pakta perjanjian bahwa perperangan akan dihentikan
untuk selamanya.
Saat itu, dunia dalam kedamaian, kami para manusia
memulai kehidupan baru yang lebih tenang dan damai. Tidak ada rudal, tidak ada
kendaraan besi berantai, tidak ada mesin terbang bersenjata lagi. Kami bisa
tidur dengan tenang tanpa peduli sebuah serangan yang menyerang, kami bisa
berjalan-jalan dengan tenang tanpa peduli apakah akan ada peluru besi menyayat
kami. Saat itu, kami berada dalam harmoni dan keindahan. Sebuah era baru.
Tapi, itu tidak berlangsung lama. Ternyata pakta
perjanjian itu tidak ditandatangani oleh semua pihak, masih ada pihak yang
berselisih dengan kedamaian, mereka yang gila kekuasaan dan menginginkan tahta
dan harta dunia. Pemberontakanpun terjadi dimana-mana, Pemerintah Dunia sebagai
penjaga kedamaian tidak punya pilihan selain berperang. Untuk alasan tertentu,
akhirnya Pemerintah mendirikan sebuah organisasi yang berfungsi meratakan
pemberontakan dan menghapuskannya dari dunia ini.
Nama organisasi itu adalah “SEKTOR”. Sebuah organisasi
penjaga kedamaian. Sejak berdirinya organisasi tersebut, angka pemberontakan
bisa dikatakan menurun, namun tidak menghentikan pemberontakan secara sempurna.
Secara tak langsung, masyrakat bisa hidup damai, tapi tak sepenuhnya damai.
Masyarakat bisa hidup tenang, tapi tak sepenuhnya tenang. Kini dimulai era
baru, mereka menamainya “ERA KEBIMBANGAN”.
-----------------------------------------------
“Zaki! Zaki!
Zaki!” kali ini aku mendengar ketukan keras di pintu kamarku. Ada sekitar 4
kali ketukan keras di pintu kayu itu, dan juga panggilan-panggilan keras. Aku
tau bahwa itu adalah bibi-ku, Bibi Helena namanya. Aku sedang mengerjakan tugas
kuliah saat itu, tapi akibat panggilan itu, aku berdiri dari kursi dan
membukakan pintu, sesosok wanita berumur 46 tahun muncul dari balik pintu itu,
dia mengenakan kerudung putih dan juga sebuah seragam bermotif batik awan.
“Ada apa
bi?” tanyaku.
“Bibi mau
berangkat kerja, sarapan ada di bawah tudung saji, jangan lupa kunci pintu ya
pas kamu mau berangkat” ucapnya dengan ramah dan terburu-buru.
“Oke bi”
kataku singkat. Dia langsung berpaling, pergi membawa tas jinjingnya yang
bewarna hitam dan segera keluar dari pintu depan. Ini ceritaku, Zaki Ramadhan,
itulah namaku, seorang lelaki berumur 19 tahun. Setelah kedua orang tuaku tiada
10 tahun lalu, aku dirawat oleh bibi dan pamanku. Hanya saja, pamanku adalah
orang penting yang selalu berpergian keluar kota dan lintas negara sehingga dia
sangat jarang dirumah, alhasil aku hanya tinggal dengan bibiku secara tak
langsung. Bibiku adalah seorang pegawai negeri, dia bekerja di bagian
administrasi, ketika pulang dia selalu membawa makanan dan juga selalu
mengerjakan pekerjaan kantornya yang belum selesai, memang sibuk.
Aku sendiri
adalah seorang mahasiswa, semester 4 di jurusan komunikasi. Tidak ada kolerasi
sebenarnya antara aku dengan jurusan itu, tapi itu bukan hal yang kupedulikan.
Jam sudah menunjuk di angka tujuh, dengan matahari bersinar terang aku segera
menyelesaikan tugas kuliah yang akan dikumpulkan nanti. Setelah berkutat dengan
tugas, aku segera mandi, lalu makan dan segera berangkat kuliah dengan motor
matic bewarna merah.
Sebuah
gedung tinggi dengan pohon rindang disekeliling gedung itu, itu adalah gedung
kuliahku, tempat tersejuk sekaligus paling menakutkan yang pernah aku kunjungi.
Aku masuk ke dalam gedung itu, sebuah lobby dengan keramik putih menyambutku,
puluhan mahasiswa sudah duduk di sudut-sudut lobby ini dengan laptop dan juga
buku di sekitar mereka. Suasana yang memuakkan, melihat ini setiap hari
membuatku merasa rishi apakah aku benar anak kuliah atau bukan.
“Zaki………”
suara lembut memanggilku, kurasa itu perempuan. Aku melihat dikejauhan ada yang
datang menghampiri sambil melambaikan tangan, seolah aku baru turun dari
pesawat da nada keluarga yang datang menyambutku. Seorang perempuan berkerudung
biru dengan jaket tipis bewarna krem serta rok hitam datang menghampiriku.
“Lisa
ternyata” kataku ketika ia mendekat. Itulah namanya, temanku sejak SMP, dan
kebetulan kami berada di jurusan yang sama. Dia datang menghampiriku dengan
senyuman yang khas, dia memang selalu tersenyum dan aku sangat jarang
melihatnya menangis.
“tumben
datang pagi” katanya sambil menunjukkan jam yang jarumnya mengarah ke angka 7 dan
6, atau itu berarti 07.30. “Apakah ada sesuatu yang membuatmu datang cepat?”
tanyanya. Itu pertanyaan menyinggung sebenarnya.
“Bukan
karena itu” ucapku dengan nada datar. Aku mendapat gelar buruk disini, melihat
perilaku-ku yang sering telat menjadikan orang-orang memberiku gelar ‘tukang
telat’. Tapi, itu tak terlalu menggangguku sebenarnya. “Apakah kamu lagi gak
ada kerjaan, Lisa?” tanyaku. “Kau-kan orang yang sibuk, bukankah begitu anak
BEM?” lanjutku.
“Sedang
tidak ada kerjaan” dia menjawab dengan tersenyum, padahal itu pertanyaan untuk
menyinggung aktivitasnya yang begitu padat. “Lebih baik kita masuk kelas,
supaya tidak kehabisan bangku di bagian depan” katanya dengan tenang dan
berjalan menuju tangga naik.
“Kursi
depan? Siapa yang mau duduk depan?” kataku, tapi aku mengikuti langkahnya.
Kami masuk
kedalam sebuah ruangan berukuran 6x7 meter, begitu kami masuk, kami disambut
oleh sebuah meja kayu besar bewarna cokelat muda dengan serat-serat kayu yang
begitu tampak jelas. Di dekat meja ada sebuah papan tulis putih menempel di
dinding. Sementara di depan meja besar itu ada sebuah meja-meja kecil yang
menyatu dengan kursi hitam. Lisa langsung meletakkan tasnya di meja paling
depan, tepat di depan meja besar dan dengan tenang ia duduk disitu. Sementara
aku, sudah pasti, meja paling belakang dan paling jauh dari meja besar itu
adalah pilihanku.
Aku berjalan
ke meja paling belakang, meletakkan tas yang sangat ringan ini disana dan duduk
lalu meletakkan kepalaku di atas tas itu, seperti bantal. Aku sadar bahwa Lisa
sedang melirikku, bukan karena rasa cinta atau suka, melainkan karena
kelakuanku yang dia anggap sangat aneh dan tidak wajar di dunianya.
“buat apa
kamu kuliah?” tanyanya dari jauh.
Aku
mengangkat kepalaku, kulihat dia membuka sebuah buku dan membolak-balikkan
beberapa lembar berkali-kali. “buat absen” kataku polos, aku meletakkan
kepalaku lagi di atas tas tipis itu.
“apakah gak
ada tujuan lain?” tanyanya sebelum aku meletakkan kepalaku kembali ke sebuah
bantal tipis bernama tas.
Aku terdiam,
dia terus menatapku dengan pandangan menunggu sebuah jawaban. Aku memandangnya
juga, tapi bukan wajahnya, melainkan aku memandang sebuah papan tulis putih di
belakangnya. Suasana menjadi sunyi, sangat sunyi. Suara ribut diluar ruangan,
suara langkah kaki yang daritadi melangkah mondar-mandir, kini hilang ditelan
pertanyaan itu.
“apa kamu
punya tujuan lain selain absen?” dia mengulangi pertanyaan lagi.
Aku hanya
menggeleng kecil. “entahlah” jawabku singkat. Ini sebuah pertanyaan sulit
untukku, entah mengapa, aku jadi memikirkan hal ini berulang dan berkali-kali. Sebuah tujuan? Belum terpikir
di benakku, biasanya aku tak memikirkannya karena kurasa tak begitu penting.
Tapi, lontaran dari Lisa membuatku berpikir tentang tujuan.
“lalu,
bagaimana kau bisa tahan kuliah hanya karena ingin absen?” tanyanya.
“karena ini
perintah orang tua” jawabku pelan. “jika orang tuaku tak menyuruh aku lebih
memilih untuk tak kuliah dan bekerja” ucapku enteng.
“tapi kau
sekarang kuliah” katanya.
“iya”
balasku singkat.
“harusnya
kau memiliki tujuan lain yang lebih kuat selain orang tua dan …………”
“sudah!”
ucapku dengan nada keras. “aku mengerti, aku mau tidur” ucapku sambil
meletakkan kepalaku di atas tasku. Renteran ucapannya berhenti, kini hanya ada
suara angin yang mengetuk jendela dan lembaran buku yang dibolak-balik. Detik
ini, aku mulai memikirkan tujuan hidupku, untuk apa? Rasanya aku tak punya alasan
yang begitu kuat untuk kuliah. Aku jadi teringat ketika teman-temanku berkata
ingin jadi ini dan itu, sedangkan aku tak mengucapkan apapun.
Saat itu,
aku mulai memikirkan tujuanku. Tapi, di satu sisi, aku berusaha melupakan apa
yang telah diucapkan oleh Lisa. Aku tak ingin terbawa oleh suasana mengesalkan,
sebuah pertanyaan konyol yang tak perlu kupikirkan.
Tapi……
Aku terus
memikirkannya…..
Suatu hal
pemberat yang bernama tujuan.

0 komentar:
Posting Komentar