Hidup ini pasti punya tujuan. Mau dibawa diri anda
nantinya, mau dikemanain diri anda nantinya, mau kayak gimana anda nantinya,
mau jadi apa anda nantinya, dan sebagainya. Untuk meraih tujuan itu ada yang
namanya proses atau perjalanan. Perjalanan dalam menggapai tujuan tersebut.
Dalam perjalanan-pun kita mengenal kata “berharap”. Berharap semoga kita bisa
mencapai tujuan kita.
Misal ketika SD, ketika selesai Ujian Nasional (UN) kita
berharap bisa keterima di SMP favorit. Begitupun ketika SMP, selesai UN kita
berharap bisa keterima di SMA favorit. SMA juga sama, ketika lulus kita
berharap bisa keterima di Perguruan Tinggi yang kita inginkan. Dalam mengikuti
lomba juga sama, kadang kita berharap bisa keluar jadi juara dan pulang membawa
hadiah. Dalam membuat karya, kadang kita berharap karya kita mendapat pujian,
bukan kritikan yang dalam. Atau bahkan kita juga berharap ‘dia’ jadi jodoh
kita. Who know?
Percaya atau nggak, hidup kita penuh harapan. Dari kecil
sampe sekarang, sudah berapa kali kita berharap? Sudah berapa harapan yang
terwujud dan sudah berapa harapan yang palsu *lho. Berharap sah-sah saja, tidak
ada yang salah dari berharap. Tapi, terkadang kadar kita berharap tidak sesuai
sehingga menimbulkan kekecewaan. Berharap yang berlebihan itu menimbulkan
kekecewaan.
Tapi, bukan berarti saya melarang kita untuk berharap.
Tidak sama sekali. Di saat hati ini gundah, galau, dan putus asa, disitu fungsi
harapan datang. Terkadang ketika diri ini berada dalam keadaan paling buruk,
kita berpikir tidak jernih, pikiran kita putus asa.
“Ah rasanya gak mungkin saya bisa promosi ke jabatan yang
lebih tinggi.” atau “ah, mustahil saya bisa masuk ke perguruan tinggi favorit
saya.” ataupun segala kata-kata yang justru semakin menjatuhkan.
Di saat diri ini sudah jatuh, maka harapanpun sirna di
depan mata. No hope again, begitulah
sebutan kerennya. Padahal, There is
always hope for us, selalu ada harapan buat para manusia. Yah, harapan itu
selalu ada, jadi tak perlu putus asa. Allah selalu memberikan jalan keluar bagi
hambanya yang kesulitan, sekarang bagaimana kita berharap padanya, memohon
padanya agar pintu jalan keluar itu segera terbuka.
Mungkin satu hal yang bisa membuat harapan itu sirna
adalah berharap ke sesama manusia. Yah, berharap ke sesama manusia memang
mengecewakan terkadang. Satu-satunya yang tidak mengecewakan adalah berharap
kepada sang pencipta, pada dirinya harapan selalu ada.
Pada akhirnya, jangan pernah berhenti berharap. Harapan
itu selalu ada buat para manusia atau bahkan selalu ada untuk para makhluk
hidup ciptaan Allah.

0 komentar:
Posting Komentar