Hari ini
begitu cerah, anda bangun dari tidur anda yang nyenyak, berdiri dari kasur
anda, merapikannya dan anda berjalan ke luar kamar. Di perjalanan, anda
menemukan tong sampah dengan tumpukan botol di dalamnya. Ada begitu banyak
botol plastik kosong disana, apa yang akan anda lakukan?
Malam itu
anda baru pulang dari kerja. Anda lelah dan anda beristirahat sejenak, seketika
anda ingat bahwa ada beberapa tugas yang harus anda kerjakan, salah satu
tugasnya adalah membuat suatu cerita. Tapi anda tak punya inspirasi saat itu,
apa yang akan anda lakukan?
Siang itu
anda sedang duduk di kursi anda yang empuk. Anda membuka rak meja anda dan
melihat tumpukan surat yang sudah usang. Apa yang akan anda lakukan dengan
tumpukan kertas itu?
Oke, mungkin anda bingung dengan pertanyaan diatas Tidak perlu dipikirkan,
jawablah dalam hati. Saya tak perlu mengetahui jawaban anda. Mungkin sebagian
dari anda bertanya, untuk apa pertanyaan tersebut, atau mungkin sebagian dari
anda sudah mengetahui tujuan dari pertanyaan itu. Jawaban dari pertanyaan itu
mencerminkan pola pikir anda, mencerminkan seberapa kuat kreatifitas anda.
Berbicara
tentang kreatifitas, saya jadi tertarik untuk membahasnya. Ya, belakangan ini
saya sering melihat berita yang membuat wawasan saya melebar. Orang-orang yang
memanfaatkan limbah, orang-orang yang mengolah kotoran hewan ternak menjadi
suatu bahan bakar, dan masih banyak lagi berita lainnya. Hal ini membuat saya
berpikir, betapa kreatifnya mereka. Mampu melahirkan sesuatu yang baru dan
berbeda.
Banyak orang
kreatif di dunia ini, dan kebanyakan dari mereka yang kreatif adalah orang yang
sukses. Tapi, anda tak perlu minder ketika melihat mereka, anda tidak perlu
takut ketika melihat kisah kreatif mereka. Kenapa? Karena anda merupakan orang
yang kreatif pada dasarnya.
GEN KREATIF
Saya
percaya, bahwa kreatifitas tidak diturunkan secara genetika. Ayah dan ibu yang
berpikiran kreatif belum tentu melahirkan anak yang kreatif dan begitu pula
sebaliknya. Kreatifitas seseorang di pengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Ya,
kondisi lingkungan berperan besar dalam pembentukan kreatifitas seseorang.
Tapi, pada
dasarnya, tidak ada orang yang terlahir tidak kreatif. Percayalah, setiap orang
terlahir dengan memiliki ‘gen kreatif’ tersendiri. Tak percaya? Coba lihat
bagaimana anda bisa berjalan? Ketika anda belajar berjalan, disitu ada proses,
dan prosesnya merupakan suatu proses yang kreatif. Anda menemukan cara anda
tersendiri untuk berjalan yang pada akhirnya anda bisa berjalan lewat
serangkaian proses yang kreatif.
Apakah anda
pernah melihat anak kecil berkreasi di sebuah kertas gambar? Ya, itu juga
bentuk kreatifitas. Maka dari itu, dari awal, kita sudah kreatif. Masalahnya
adalah apakah kreatifitas itu kita ekspresikan lebih lanjut atau kita
sembunyikan?
DOMINAN ATAU RESESIF?
Ketika kita
kecil, kita adalah orang yang kreatif. Berani mencoba segala hal tanpa mengenal
rasa takut. Tapi, ketika beranjak dewasa kita mulai melihat rasa takut, kita
mulai dilarang ini itu. Yah, larangan merupakan hal yang wajar dan memang
larangan harus ada. Hanya saja, terkadang larangan itu kita telan mentah-mentah
tanpa memikirkan apakah larangan itu masuk akal atau tidak.
Sebagai
contoh, salah satu teman saya memiliki hobi menggambar. Ketika dia beranjak
SMP, orang tua-nya mulai melarang dia untuk menggambar, alasannya? Dia harus
focus dengan pelajaran, menggambar hanya menghalangi proses belajar di sekolah.
Alhasil, teman saya menyudahi karir menggambarnya dan fokus sekolah. Padahal,
menurut saya gambar yang ia buat sangat bagus.
Tapi berbeda
dengan teman saya yang satu. Hanya saja, teman saya yang satu ini hobi main
game online. Suatu ketika ia kepergok sedang bermain di warnet, alhasil dia
dilarang bermain. Tapi teman saya tidak putus asa, dia justru tetap bermain dan
malah dari game online dia bisa menghasilkan beberapa uang dari penjualan
item-item langka, haha.
Seringkali
lingkungan membatasi kita, seringkali lingkungan membuat kita takut mencoba.
Takut mencoba membuat kreatifitas kita tumpul. Itulah kenapa kita harus berani
untuk mencoba, walaupun pada akhirnya hasilnya jauh dari harapan, tapi itu
membuat kita belajar lebih banyak.
Kreatifitas
bergantung dari sekuat apa anda mengekspresikan ‘gen kreatif’ anda. Mungkin
anda pernah bertemu teman anda yang tiap detik selalu ada ide dari kepalanya,
dia tak pernah habis ide, bahkan ketika dia lupa membawa tugas ke sekolah dia
bisa mengatasinya. Tapi mungkin anda pernah bertemu teman anda yang apatis dan
minim ide, pikirannya itu itu melulu dan pola pikirnya statis.
Kekuatan
‘gen kreatif’ tiap orang memang berbeda. Bergantung dari seberapa kuat mereka
mengekspresikannya. Ekspresi dari ‘gen kreatif’ dipengaruhi lingkungan. Tapi
yang paling penting, ekspresi dari ‘gen kreatif’ tergantung pada diri kita. ‘Gen
kreatif’ akan semakin dominan ketika anda terus mengasah kreatifitas anda.
BAGAIMANA CARA MENGASAHNYA?
Kreatifitas
bukan keturunan. Tapi lingkungan. Kreatifitas bukanlah proses sekali jadi,
melainkan proses yang berkelanjutan tanpa akhir. Tidak ada takaran yang pasti
dalam kreatifitas. Yang bisa anda lakukan adalah MEMBIASAKAN diri anda untuk
hidup kreatif.
Bagaimana
caranya? Setiap langkah besar dimulai dari yang kecil. Anda cukup melakukan
hal-hal kecil. Contohnya?
1. Botol Bekas, mau diapain?
Ketika saya
lulus SMA, saya harus melanjutkan ke dunia perkuliahan. Ketika saya kuliah,
saya hidup di asrama bersama teman-teman yang lain. Di asrama saya terbiasa
membeli beberapa botol air untuk persediaan air. Suatu ketika saya melihat ada
tumpukan botol di sampah. Bingung mau diapain akhirnya saya mengumpulkan
botol-botol itu, awalnya ingin membuat sebuah rak sandal, walaupun pada
akhirnya gak kesampean.
Akhirnya
botol-botol itu saya jadikan celengan dan tempat pensil. Selain itu saya
jadikan tempat untuk menyimpan charger handphone dan juga peralatan lain. Ya,
sebuah botol bekas bisa menjadi sesuatu yang berguna, daripada dibuang, lebih
baik anda kreasikan, hehe.
2. Kertas bekas, mau dikemanain?
Ketika
pertama kali kuliah, ada sebuah acara bernama MPKMB (Masa Perkenalan Kampus
Mahasiswa Baru). Sebelum MPKMB, para mahasiswa baru diberi tugas untuk membuat
sebuah buku dari kertas bekas dan kardus bekas. Mungkin bagi sebagian orang ini
adalah hal yang biasa. Tapi, tidak untuk saya.
Ini
merupakan hal baru, memakai kertas bekas untuk buku panduan. Ya, tugas ini
membuat pikiran saya terbuka. Daripada membeli kertas baru, lebih baik memakai
kertas bekas, toh seringkali kita mendapat kertas pengumuman yang di bagian
belakangnya kosong. Nah, bagian itu bisa digunakan untuk menuliskan sesuatu,
daripada dibuang atau dibakar, lebih baik dikreasikan.
3. Imajinasi dan imajinasi
Langkah
kecil untuk mengasak ‘gen kreatif’ kita adalah dengan berimajinasi. Tentunya
berimajinasi yang di luar akal sehat. Saya sering jatuh dalam imajinasi saya.
Kadang saya membayangkan sebuah pesawat yang lebih cepat dari cahaya sehingga
kita bisa berkeliling alam semesta dengan cepat. Kadang saya membayangkan juga
ketika ada kejahatan di kota dan saya dating sebagai superhero. Oke, itu gak penting.
Intinya,
anda perlu berimajinasi dan berimajinasi. Kalau bisa yang di luar akal sehat
dan jauh dari kenormalan. Karena menjadi normal itu gak asik, kita butuh yang
abnormal.
Tapi daya
imajinasi saya kurang. Oke, anda tinggal membuka youtube dan menonton
video-video yang ada disitu, anda bisa melihat video music, trailer film
ataupun hal lain. Atau kalau kocek anda lumayan tebal, anda bisa pergi ke
bioskop dan menonton film. Atau anda bisa ke pinggir jalan dan mengamati
kehidupan disana. Kreatif adalah bagaimana anda melihat sesuatu secara berbeda.
Masih ada
cara lain sebenarnya. Masih ada langkah kecil yang dapat melatih kreatifitas
anda. Pulang pergi lewat jalan yang berbeda merupakan salah satu bentuk
kreatifitas anda. Jika anda terbiasa menulis dengan tangan kanan, maka cobalah
dengan tangan kiri, belajarlah, gila memang, tapi menjadi gila itu kadang
menyenangkan.
Jadi, anda
perlu mendominankan ‘gen kreatif’ anda, bangun kebiasaan kreatif dengan
melakukan hal-hal kecil. Dengan melakukan hal-hal kecil yang kreatif nantinya
anda akan terus berkembang menjadi seseorang yang abnormal dan selamat
kreatifitas anda tidak tumpul haha.
Sekian
artikel gak jelas ini. Saya tau masih banyak minus di dalam artikel ini. Saya
mohon maaf atas ketidakjelasan artikel ini. Jika ada kritik dan saran silahkan
tulisan di kolom komentar, selamat pagi dan sampai jumpa. Salam kreatif.


0 komentar:
Posting Komentar