Besok akan ada pesta di rumah teman anda dan anda menjadi
salah satu tamu undangan disana. Tapi, di sisi lain, besok ada pekerjaan
tambahan di kantor anda sehingga anda harus lembur dan waktunya bertepatan
dengan waktu pesta tersebut. Mana yang akan anda pilih?
Pagi ini di kulkas anda tersedia sebutir telur dan juga potongan sayur-sayuran. Pagi ini anda harus sarapan dan apa yang akan anda makan? Telur atau potongan sayur?
Sore ini anda ada janji untuk bertemu dengan teman lama
anda di sebuah café tempat anda biasa nongkrong. Tapi, disaat yang bersamaan,
anda diajak untuk bermain futsal bersama teman kantor anda, mana yang akan anda
jalani?
Malam ini anda harus mengerjakan deadline proposal yang
akan dikumpulkan besok, tapi ternyata mala mini aka nada pertandingan Big Match
dari tim kesukaan anda. Anda mengerti bahwa menonton bola hingga larut akan
membuat pekerjaan anda terbengkalai, tapi disatu sisi, anda harus menonton
pertandingan itu. Mana yang akan anda pilih? Deadline atau menonton bola?
You’re a Free Human
Pertama, anda adalah manusia. Kedua, apakah anda adalah
manusia yang terikat (budak) atau manusia yang bebas? Tentu saja, jawaban dari
pertanyaan tersebut ada dalam diri anda. Ada dalam kehidupan anda sehari-hari.
Sejatinya kita adalah manusia yang bebas. Bebas dalam hal
apa? Bebas dalam hal menentukan pilihan. Dari pilihan-pilihan yang sudah saya
tawarkan diatas, tentu saja anda bebas memilih. Apakah anda ingin datang ke
pesta atau anda lebih memilih untuk lembur kerja atau anda lebih memilih
menonton bola dibanding mengerjakan deadline. Itu adalah pilihan anda sebagai
manusia yang bebas.
Pada hakikatnya, setiap manusia itu bebas. Hanya saja,
sebagian dari kita adalah korban dari lingkungan. Apa maksudnya? Artinya kita
terpengaruh lingkungan, kita terpaksa ‘mengikuti’ lingkungan ketimbang
‘memberi’ pengaruh kepada lingkungan. Kita membiarkan diri kita ‘dipengaruhi’
oleh lingkungan bukannya ‘mempengaruhi’ lingkungan.
Terkadang kita membiarkan diri kita dikendalikan oleh
orang lain. Kita membiarkan diri kita terbully oleh ocehan orang lain tentang
diri kita. Kita membiarkan orang lain mempengaruhi kita dengan ejekan-ejekan
mereka. Padahal, kita adalah manusia yang bebas. Kita bebas untuk tidak
mendengarkan omongan-omongan mereka (ejekan yang buruk). Kita bebas untuk
menghiraukan itu, kita bebas untuk melepaskan diri dari bully-an orang lain,
because we are a FREE HUMAN!
Tapi, Dunia Memiliki Hukum
Alam
Sebagai manusia yang bebas ternyata tak membuat segalanya
menjadi menyenangkan. Ya, terlepas dari kebebasan, disana ada hukum lain yang
bermain. Jika hukum pertama mengatakan bahwa anda adalah manusia yang bebas.
Maka hukum kedua menyatakan bahwa hukum pertama memiliki hubungan erat dengan
hukum alam. Apa itu hukum alam?
Setiap aksi yang kita lakukan terhadap alam tentunya akan
diberikan reaksi sesuai dengan aksinya. Jahat diberi jahat dan baik diberi
baik. Dalam kebebasan, ada hukum alam yang bermain. Sederhananya, anda bebas
memilih pilihan anda, tapi anda TIDAK BEBAS untuk menentukan konsekuensinya,
anda tak bebas untuk menentukan reaksi yang muncul.
Contoh, anda memilih untuk menjadi seorang pecandu
narkoba, tapi disamping itu anda ingin menghendaki bahwa diri anda sehat.
Bisakah? Saya rasa tidak, seorang pecandu narkoba sangat mustahil untuk
memiliki tubuh yang sehat, berdasarkan fakta di lapangan, para pecandu narkoba
adalah orang-orang yang sakit secara fisik dan jiwanya. Jadi, anda bebas
menentukan tindakan yang anda lakukan, tapi anda tak bebas untuk menentukan
konsekuensinya.
Setiap tindakan yang kita lakukan selalu memiliki
konsekuensi. Setiap konsekuensi ditentukan oleh sang pencipta, jika tindakan
anda baik maka akan berbuah baik, jika tindakan anda buruk maka akan berbuah
buruk. Jadi, pada akhirnya anda harus menentukan pilihan yang berbuah baik.
Jadi, Apa Pilihanmu?
Sekarang, anda memiliki dua hukum. Hukum pertama
mengatakan jika anda adalah manusia yang bebas. Hukum kedua mengatakan bahwa
anda terikat dengan aturan alam. Jadi, anda perlu berhitung dan berpikir untuk
menentukan pilihan anda. Jangan sampai pilihan anda berbuah keburukan sehingga
anda hanya hidup dalam penyesalan dan kesialan. Jadi, bagaimana pilihan anda
sekarang?
Pertama, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita perlu
berpedoman pada ajaran Tuhan atau apa yang kita sebut sebagai agama. Saya yakin
bahwa apapun agamanya, baik itu islam, Kristen, hindu, budha atau lainnya,
pasti selalu mengajarkan kebaikan. Oleh karena itu, orientasi terhadap ajaran
agama itu penting. Itu pedoman anda kedepannya dan pilihan yang anda pilih harus
sejalan dengan ajaran agama yang anda anut.
Kedua, kita adalah makhluk sosial. Di samping kepentingan
diri sendiri, anda harus mendahulukan kepentingan orang lain. Contoh, anda
bekerja di sebuah perusahaan, hari ini anda diminta lembur, tapi di satu sisi,
teman anda mengajak anda untuk bersenang-senang di sebuah pesta. Mana yang akan
anda pilih? Di satu sisi, anda membutuhkan kesenangan (kepentingan sendiri)
tapi di satu sisi anda dibutuhkan untuk lembur (kepentingan orang lain), saran
saya pilihlah untuk lembur. Memang melelahkan, tapi meringankan beban orang
lain itu lebih mulia rasanya dibanding meringankan beban diri sendiri.
Ketiga atau terakhir, buatlah pilihan dengan kesalahan seminimal mungkin. Jangan sampai pilihan anda mengandung kesalahan dan penyimpangan. Memang, pada akhirnya manusia tidak terlepas dari salah, tapi saya yakin bahwa manusia bisa meminimalisir kesalahan itu dengan hati-hati dalam memilih. Gunakan pedoman yang ada sehingga pilihan anda bisa tetap berada di jalan yang benar dan tepat pada sasaran.
Pada Akhirnya……
Hukum pertama : Anda adalah manusia yang bebas dan Hukum
kedua : ada hukum alam yang bermain.
Pada akhirnya anda harus berhati-hati dan siap menerima
konsekuensi (timbal balik) dari setiap pilihan yang anda buat. Pada akhirnya
andalah penerima konsekuensi itu dan anda tidak bisa menghindari konsekuensi
itu. Pada akhirnya, kebijaksanaan anda-lah yang akan membimbing anda untuk
memilih pilihan yang tepat.

0 komentar:
Posting Komentar